
“Sudah gue bilang jangan merokok, masih aja ngebul.”
Kukibaskan tangan kananku menghalau kurva-kurva karbonmonoksida yang bersumber dari batang rokoknya. Dia nyengir, sambil berbalik badan memunggungiku. Saat yang tepat untuk menangkap detil sosoknya lalu akan kusimpan dalam sel abu-abuku. Rambutnya yang sebahu dengan potongan tak teratur itu sedikit basah terkena gerimis. Momen seperti ini akan kugambar di buku sketsaku, kapan-kapan. Ah, sebaiknya nanti malam saja. Biasanya saat malam dia sering mengusikku dalam bentuk bayangan yang hanya bersliweran di ruang khayalku.
“Ke, makasih ya. Kata Pak Rama, proposal gue udah oke. Untung lo bantuin ngedit. Mata gue udah jereng melototin huruf-huruf itu. Perasaan nggak ada yang salah, eh pas diprint baru ketahuan mana salahnya. Nyebelin kan. Ngabisin kertas aja. Ngabisin hutan juga.”
Katanya setelah kembali menghadap ke arahku. Batang rokoknya sudah pendek, tapi aku yakin, dia tidak akan membuangnya sebelum rokok itu benar-benar mati dengan sendirinya. Tipikal mahasiswa yang nggak mau rugi.
“Iya, sama-sama. Kalau takut ngabisin hutan, mending bilang sama Pak Rama, draft proposal sama skripsi lo nanti nggak usah diprint aja. Disetor via email gitu. “
Baca selebihnya »